Leadership and Softskill+

January 29, 2026

Atasi Gap Generasi Kantor dengan Komunikasi DISC

atasi-gap-generasi-kantor-dengan-komunikasi-disc

Pintu ruang rapat terbanting cukup keras, membuat seisi kantor menoleh kaget. Pak Haris, seorang manajer operasional senior berusia 50-an, keluar dengan wajah memerah menahan amarah. Di belakangnya, Dika, staf kreatif berusia 23 tahun dari Generasi Z, hanya menghela napas panjang sambil membetulkan letak earphone di lehernya.

"Saya minta laporan tertulis yang rapi di meja saya jam 9 pagi, tapi dia malah kirim link Google Drive lewat WhatsApp jam 9 lewat 5 menit!" gerutu Pak Haris kepada rekan sejawatnya. Di sisi lain ruangan, Dika curhat kepada temannya, "Gila, kaku banget sih. Padahal datanya real-time dan lebih gampang dibaca di dashboard digital. Kenapa harus di-print lagi, sih? Buang-buang kertas."

Situasi ini mungkin terdengar familiar bagi Anda. Ketegangan di kantor Pak Haris bukan disebabkan oleh ketidakmampuan teknis. Keduanya orang hebat, Pak Haris dengan pengalaman puluhan tahun dan Dika dengan inovasi digitalnya. Masalah sebenarnya adalah kegagalan komunikasi yang dipicu oleh jurang perbedaan usia yang lebar atau sering disebut sebagai gap generation. Tanpa jembatan komunikasi yang tepat, potensi kolaborasi mereka justru berubah menjadi perang dingin yang merugikan perusahaan.

Memahami Medan Perang: Benturan Antar Generasi

Konflik Pak Haris dan Dika adalah contoh klasik benturan nilai. Pak Haris, yang mungkin tergolong Generasi Baby Boomer atau Gen X awal, tumbuh dalam budaya kerja yang menghargai hierarki, formalitas, dan proses tatap muka. Bagi generasinya, kedisiplinan dan bentuk fisik laporan adalah tanda hormat dan profesionalisme.

Sebaliknya, Dika adalah representasi Gen Z yang digital native. Bagi mereka, efisiensi dan kecepatan adalah raja. Formalitas seringkali dianggap sebagai birokrasi yang memperlambat gerak. Ketika dua sudut pandang ini bertabrakan tanpa peredam, yang terjadi adalah misinterpretasi. Pak Haris merasa tidak dihargai, sementara Dika merasa ide-idenya terkekang oleh aturan kuno.

Di sinilah pentingnya ilmu komunikasi berperan. Bukan sekadar cara berbicara yang santun, tetapi kemampuan memahami "bahasa" lawan bicara kita. Untuk melerai benang kusut ini, kita memerlukan alat bantu navigasi psikologis yang disebut DISC.

DISC: Peta Rahasia Memahami Rekan Kerja

Seorang HRD yang bijak di kantor tersebut, Bu Sari, melihat pola ini. Ia tahu bahwa menceramahi Dika soal sopan santun atau memaksa Pak Haris belajar teknologi dalam semalam tidak akan efektif. Bu Sari memutuskan menggunakan pendekatan behavioral profiling DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Compliance).

Ia mengajak keduanya duduk dan membedah gaya komunikasi mereka. Ternyata, Pak Haris memiliki profil Compliance (C) yang tinggi. Orang dengan tipe C sangat menghargai data yang akurat, prosedur yang jelas, detail, dan aturan baku. Mereka tidak suka kejutan atau perubahan mendadak yang tidak terstruktur.

Sementara itu, Dika memiliki profil Influence (I) yang dominan. Tipe I adalah orang yang antusias, optimis, dan suka berinteraksi, namun seringkali kurang teliti pada detail-detail kecil dan prosedur formal. Dika fokus pada "ide besar" dan kecepatan, sementara Pak Haris fokus pada "ketepatan" dan prosedur.

"Pak Haris bukan membenci kamu, Dika," jelas Bu Sari. "Beliau hanya butuh kepastian dan detail karena itu bahasa kasih (C) beliau dalam bekerja. Dan Pak Haris, Dika bukan tidak sopan, dia hanya berorientasi pada kecepatan inovasi (I)."

Contoh Aplikasi Nyata: Mengubah Konflik Menjadi Kolaborasi

Setelah memahami peta DISC masing-masing, strategi komunikasi pun diubah. Ini adalah momen transformasi yang krusial.

Dika belajar untuk beradaptasi. Ketika ia harus melapor ke Pak Haris, ia tidak lagi hanya melempar tautan mentah. Ia menyiapkan ringkasan eksekutif satu halaman (memenuhi kebutuhan Pak Haris akan detail dan struktur), mencetaknya, dan menyerahkannya secara langsung tepat waktu. Ia berbicara dengan data, bukan hanya asumsi. Dika menggunakan ilmu komunikasi untuk "berbicara" dalam bahasa C (Compliance).

Di sisi lain, Pak Haris juga belajar melunakkan pendekatannya. Menyadari Dika adalah tipe I yang butuh apresiasi dan kebebasan berekspresi, Pak Haris mulai memberikan ruang bagi Dika untuk mempresentasikan idenya secara visual sebelum masuk ke detail teknis. Ia tidak lagi langsung memotong dengan kritik, tapi memberikan apresiasi atas kreativitasnya terlebih dahulu.

Hasilnya luar biasa. Ketegangan di ruang rapat mencair. Laporan Pak Haris menjadi lebih inovatif berkat visualisasi data dari Dika, dan ide-ide liar Dika menjadi lebih bisa dieksekusi (actionable) berkat bimbingan struktur dari Pak Haris. Gap generation yang tadinya menjadi tembok pemisah, kini menjadi aset yang saling melengkapi. Pak Haris memberikan kebijaksanaan pengalaman, Dika memberikan kecepatan inovasi.

Kunci Keharmonisan di Kantor Multi Generasi

Kisah di atas menunjukkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup untuk bertahan di dunia kerja modern yang penuh dengan keragaman usia. Anda bisa menjadi pembuat kode paling jenius atau manajer paling berpengalaman, tetapi jika Anda buta terhadap gaya komunikasi orang lain, karir Anda akan terhambat oleh konflik yang tidak perlu.

Menguasai ilmu komunikasi berbasis kepribadian dan generasi adalah soft skill paling mahal saat ini. Ini adalah kemampuan untuk menjadi "bunglon" sosial yang cerdas—bisa tegas saat bicara dengan si Dominan, bisa detail saat bicara dengan si Compliance, dan bisa asik saat bicara dengan si Influence.

Jangan biarkan gap generation menghambat produktivitas tim Anda. Konflik seperti Pak Haris dan Dika terjadi di ribuan kantor setiap harinya, dan seringkali berakhir dengan resign-nya talenta berbakat hanya karena masalah komunikasi yang sebenarnya bisa diselesaikan.

Apakah Anda siap menjadi jembatan penghubung di kantor Anda? Atau Anda masih sering merasa frustrasi karena rekan kerja yang "susah dimengerti"? Saatnya Anda melengkapi diri dengan strategi komunikasi yang teruji di kelas Komunikasi bersama Risconsulting.

Related Tags

#DISC
#Komunikasi
#Gap Generasi
Risconsulting

Kami adalah solusi kreatif untuk kapabilitas & kapasitas di era digital.

Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami. Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Mulai Konsultasi Gratis

New Article

Discover our latest articles and insights

Risconsulting

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470

info@ris.co.id
(021) 278 99 508