DIGITAL MINDSET

 MENANAM DIGITAL MINDSET  MENUAI DIGITAL MASTERY


Saat ini, digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan melainkan keharusan. Tidak berlebihan jika ada ungkapan yang menyatakan DIGITALIZED OR DIE. Mari melihat ke sekeliling kita. Banyak sekali perusahaan yang beroperasi secara konvensional mendapat serangan disruptive dari perusahaan sejenis yang berbasis aplikasi yang sering juga disebut terkena “tsunami digital.” Sebagian besar inovasi saat ini didukung oleh aplikasi digital. 

Kita paham bahwa dunia kita tidak hanya sedang dilanda VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity), melainkan lebih dahsyat lagi,  yakni dilanda oleh TUNA (Turbulency, Uncertainty, Novelty and Ambiguity). Agar organisasi bisa bertahan kena guncangan yang berputar cepat (turbulency) yang menyebabkan lahirnya siatuasi yang serba tidak pasti (uncertainty), organisasi tersebut harus selalu memperbaharui diri nya (novelty) agar mampu menghilangkan ketidakjelasan (ambiguity).

Novelty merupakan kata kunci bagi organisasi untuk bisa bertahan hidup bahkan bisa memimpin persaingan. Karena dengan novelty, organisasi dengan segenap perangkatnya (people, structure and technology) akan selalu relevan dengan dinamika kebutuhan pelanggan yang juga mengalami perubahan secara turbulensi.

Beberapa tahun sebelum dunia dilanda pandemi, digitalisasi telah banyak merubah perilaku kerja organisasi dalam melayani pelanggannya. Jasa Marga misalnya, perusahaan pengelola jalan tol ini telah menggantikan ribuan petugas pelayanan pembayaran di gerbang tol dengan kartu tol elektronik atau e-toll. Begitu juga dengan beberapa jabatan ujung tombak pelayanan perbankan beberapa telah tergusur oleh teknologi digital dan masih ada kelanjutan nya. Lalu dikemanakan ribuan karyawan yang telah berjasa menopang berkembang nya organisasi bisnis tersebut? Organisasi tidak punya pilihan selain harus secepat nya memperbaharui kompetensi mereka agar relevan dengan kebutuhan era digital.  

Abraham Lincoln, mantan Presiden AS yang menjadi panutan Barrack Obama, mengatakan bahwa cara terbaik untuk memperkirakan masa depan adalah dengan menciptakan nya. Rasanya ungkapan sang pemimpin legendaris ini relevan dengan situasi yang dihadapi oleh organsiasi yang menghadapi “tsunami digital”. Seperti apakah kecenderungan perilaku pelanggan di masa yang akan datang? Juga seperti apakah medan persaingan yang akan diahadapi akibat laju pesat nya pertumbuhan teknologi digital? 

Adalah dengan membaca kecenderungannya, memperkiarakan dampak nya dan memperbaharui kemampuan organsiasi agar unggul dalam membuat teknologi masa depan itu sendiri sehingga organsiasi kita bisa menjadi “pemilik” masa depan tersebut.

Sebagai contoh yang sudah kasat mata yakni apa yang terjadi di industri otomotif. Peta persaingan produsen mobil tidak lagi antara Toyota, Mitsubishi, Honda, Daihatsu, Datsun dan yang sejenis, melainkan dengan Tesla (mobil berbahan bakar lsitrik), juga dengan Google’s Car yang mobil nya dapat melaju di jalan raya tanpa pengemudi untuk mengantarkan penumpang hingga ke tujuan, juga dengan flying car yang akan diproduksi oleh konsorsium Airbus.

Kehadiran Tesla, Google’s Car dan Flying Car tidak hanya berdampak “tsunami” kepada industri otomotif tapi juga industri hulu (bahan baku, barang-barang modal, dsb) dan industri hilirnya, termasuk kompetensi baru yang dibutuhkan. 

Para ahli mengatakan era digital mengubah pengguna menjadi value creator. Pengalaman online bukan lagi sebuah dialog dua arah. Penciptaan terhadap sebuah produk/layanan/proses dilakukan secara cepat, cair, dan disruptif.  “Kita selalu menjalani hidup dalam keadaan beta yang terus-menerus.” 

Jadi apa sebenarnya digitalisasi itu? Para ahli merumuskan digitalisasi sebagai cara baru memberi apa yang diinginkan orang. Ciri nya adalah:

  1. Langkah perubahan yang lebih besar dari internet.
  2. Kemajuan teknologi secara eksponensial.
  3. Daya konsumen yang lebih besar.
  4. Persaingan yang menajam.
  5. Semua industri menghadapi ancaman komoditisasi
  6. Para pemenang akan bertindak sekarang membangun keunggulan strategis sehingga pesaing  mereka terkaget-kaget dan bertanya apa sesungguh nya yang terjadi?
  7. Solusinya lebih baik daripada solusi tradisional karena langsung memberi solusi secara individual dan terjangkau. Kehadiran Airbnb, Grab, Gojek, Amazon,Shopee dan Tokopedia adalah beberapa diantara nya.

PELUANG DAN KESIAPAN MASUK KE ERA DIGITAL

Kehadiran era digital selain membawa ancaman sekaligus menciptakan kesempatan baru. Pemain bisnis baru yang melakukan disrupsi akan berdatangan dan mengancam untuk mengubah bisnis secara fundamental Walau demikian, peningkatan kebutuhan data secara eksponensial dan persaingan yang ketat antar penyedia meningkatkan permintaan namun mengurangi keuntungan. 

Untuk masuk ke dunia digital, kita perlu menantang mental model kita, tentang apa yang sedang terjadi. Mental model disebut juga paradigma. Hukum tanam-tuai menyebutkan bahwa penanam paradigma akan menuai tindakan, penanam tindakan akan menuai kebiasaan, penanam kebiasaan akan menuai karakter dan penanam karakter akan menuai nasib. Jadi baik tidak nya nasib  suatu organsiasi di era digital sangat tergantung kepada paradigma insan organisasi tersebut terutama para pemimpinnya. 

Dalam psikologi kognitif, dari mana istilah ”Mindset” berasal, terdapat perbedaan antara The Growth Mindset and Fixed Mindsets. The Growth Mindsetadalah Mindset yang percaya pada perkembangan dan tantangan sedangkan Fixed Mindsetlebih menyukai yang lama dan yang sudah dikenal. Jika kedua jenis Mindset tersebut ditanam kembali di era digitalisasi, fixed mindset menjadi pola pikir non-digitaldan the growth mindsetmenjadi pola pikir digital. Untuk itu, paradigma yang dibutuhkan adalah paradigma digital yang disebut, “digital mindset”.

Perihal digital mindset, para ahli menyimpulkan sebagai seperangkat struktur pengetahuan- pengalaman mental yang terbentuk karena hidup di dalam masyarakat digital dan yang dikenali dan digunakan oleh individu agar menjadi sukses di lingkungan digital. 

Mengamati situasi yang berkembang, dengan cara pandang digital mindset kita bisa memahami bahwa dewasa ini organisasi kita sedang menghadapi perubahan kebutuhan pelanggan yang amat cepat, kemunculan teknologi baru yang mengagumkan sekaligus mengherankan, model bisnis  yang radikal dan pertumbuhan industri yang melambat.

Dengan mindset seperti inilah seharusnya organisasi menyiapkan insan-insannya, proses dan model bisnisnya serta teknologinya untuk menciptakan dan merebut masa depan sedini mungkin. Para pemimpin harus mempelajari keahlian digital baru dan menciptakan solusi yang menarik.

SOLUSI YANG MEMIKAT PELANGGAN

Lalu bagaimana cara nya agar solusi kita bisa menarik bagi pelanggan? 

Gunakan data,pengetahuan dan keterampilan untuk memberikan solusi yang dapat langsung di deliver dengan harga yang terjangkau. Sebuah solusi akan menarik bagi pelanggan jika dipersonalisasi dengan kebutuhan pelanggan, instantly delivered dan affordable (time and money). Semua nya ini bisa organisasi wujudkan jika pemimpin dan insan organisasi nya memiliki digital mindset dan kompetensi digital (digital knowledge,digital skill dan digital attitude).

Pemimpin dan insan organisasi yang telah memiliki digital mindset akan sukses membawa transformasi perusahaan nya dari traditional company menjadi digital company. Transformasi tersebut meiliputi :

  1. Produk/solusi, dari semula berorientasi produk menjadi beorientasi pelanggan, 
  2. Struktur organisasi, dari sebelum nya hirarkis tradisional mejadi kolaboratif antar disiplin keahlian dan lincah dimana anggota tim bisa bertukar tempat  setiap saat sesuai kebutuhan organisasi.
  3. Pasar, dari yang berorientasi keunikan produk dan penguasaan pangsa pasar menuju penciptaan manfaat bersama dengan pemangku kepentingan bahkan dengan kompetitor.
  4. Rantai pasokan dan penciptaan nilai, dari yang berwujud pisik dan transaksi yang berantai menjadi berupa ekosistem dan value stream.
  5. Keterlibatan stakeholders  yang semula membutuhkan perantara menjadi sebuah eko system yang interaktif yang tidak lagi membutuhkan perantara.

DIGITAL MASTERY JOURNEY

Sebagaimana ucapan Abraham Lincoln di atas bahwa cara terbaik untuk memperkirakan masa depan adalah dengan menciptakan masa depan itu. Organisasi telah merumuskan apa yang akan diciptakannya (baik produk atau solusi) saat ini, berdasarkan prediksi kebutuhan pelanggan di masa depan. Organisasi juga harus menajdi master dalam merebut masa depan tersebut. Untuk itu, dibutuhkan serangkaian perjalanan yang harus nya menyenangkan sehingga organisasi mampu memiliki digital mastery.

Perjalanan tersebut lagi-lagi dimulai dengan merumuskan kerangka paradigma digital, dengan kerangka ini organsasi dapat belajar dari kesuksesan besar di masa lalu, tingkat kesuksesan saat ini dan merumuskan tujuan dan langkah-langkah untuk meraih kesuksesan besar di masa depan.

Langkah selanjut nya adalah membangun digital capabilities termasuk di dalamnya digital leadership capabilities dan digital culture. Sebagaimana didefenisikan bahwa kultur/budaya merupakan perilaku kolektif yang dilaksanakan oleh sebagian anggota organisasi di sebagian besar waktu nya. Tentu digital mastery akan terwujud jika digital culture telah terbentuk.  

TIPS MEMBANGUN DIGITAL MINDSET DI DUNIA KERJA

Transformasi digital adalah tentang sumber daya manusia yang mengubah cara mereka dalam melakukan pendekatan pada masalah bisnis dan dimana mereka bisa menemukan solusi. Satu-satunya yang mendorong manusia berpikir secara digital bukanlah teknologi gawai, melainkan perubahan dari manusia itu sendiri. Untuk itu, transformasi digital seringkali menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyaka orang. terutama bagi mereka yang terintimidasi dengan cepatnya perkembangan teknologi yang terjadi di sekitar kita. 

Apalagi, dunia kerja merupakan dunia penuh persaingan, dimana semua karyawan harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada jika memang tidak ingin tersingkir. Berikut ini adalah tips yang dapat membantu Anda membangun kultur dengan digital mindset di perusahaan Anda;

  1. Pahami bahwa kita bisa karena terbiasa. Tanpa kita sadari, sampai saat ini kita bisa bertahan untuk menyesuaikan diri dengan era digital dan segala jenis perkembangan manusia. Artinya, bukan tidak mungkin membiasakan diri dengan perubahan zaman dan perubahan mindset manusia di lingkungan kerja, karena beberapa hal mungkin saja sudah biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Jangan menghindar. Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, serta perkembangan zaman, adalah hal yang seharusnya kita cari tau, bukan dihindari. Seseorang dengan digital mindset tentu akan berusaha menyesuaikan diri dan mencaritahu lebih banyak solusi untuk permasalahan digital. 
  1. Memberikan motivasi yang tepat. Digital mindset tidak akan menyebar begitu saja di lingkungan kerja tanpa motivasi yang tepat. Untuk mewujudkan bentuk yang lebih konkret, motivasi seluruh sumber daya manusia yang ada di perusahaan Anda dengan infrastruktur yang mendukung. 

Untuk memperkuat pemahaman Anda seputar dgital mindset, ada baiknya jika Anda mengikuti webinar Flourish Your Mind With Digital Mindset dari Risconsulting. Webinar ini akan membuat kita memahami bagaimana Digital Mindset akan merubah cara kita melihat masa kini dan masa depan. Belajar mengenai mengenali teknologi apa saja yang sudah ada disekitar kita, bagaimana menggunakannya dan membuat kita mampu bekerja lebih cepat, lebih mudah dan lebih berkualitas.

Dalam webinar ini, kita belajar tentang teknologi apa saja yang sudah ada disekitar kita, supaya kita bisa belajar memanfaatkannya dalam keseharian dan akan mendorong kita untuk terus belajar memahami cara kerja digital.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Signature Programs

Read More

LEGO® SERIOUS PLAY®

Read More

Leadership In Motion

Read More

Outdoor Learning Experience

Follow Us

Kami siap membantu Anda

Pelajari lebih lengkap bersama kami

Events Yang Akan Mendatang

Podomoro City Blok
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH

Jakarta Barat – 11470

info@ris.co.id
(021) 278 99 508

X