January 19, 2026
Di sebuah kantor penjualan di Jakarta, ada dua supervisor dengan kinerja yang sama-sama “cukup”. Angkanya stabil, tidak jelek, tapi juga tidak pernah melompat. Bedanya hanya satu: cara mereka memaknai kegagalan.
Yang pertama, sebut saja Dani, selalu berkata, “Pasar memang lagi jelek. Timku sudah maksimal.” Yang kedua, Bima, berkata, “Kalau hasilnya segini, berarti ada cara kerja yang perlu kita ubah.”
Di situlah perbedaan growth mindset vs fixed mindset mulai terlihat — dan dampaknya bukan cuma ke karier mereka, tapi ke masa depan perusahaan.
Fixed mindset adalah pola pikir yang percaya bahwa kemampuan itu tetap. Pintar ya pintar, nggak pintar ya sudah. Jago jualan ya jago, nggak jago ya bukan bakat.
Sementara growth mindset percaya bahwa kemampuan bisa dikembangkan lewat latihan, feedback, dan strategi yang tepat.
Di dunia kerja, perbedaannya terlihat jelas. Ketika target tidak tercapai, orang dengan fixed mindset berkata: “Aku memang bukan orang sales. Sudah dari sananya.”
Sedangkan orang dengan growth mindset berkata: “Strategiku salah. Aku perlu belajar cara baru.”
Dari sinilah perusahaan mulai terbagi dua: yang stagnan dan yang bertumbuh.
Banyak perusahaan merasa mereka sudah bekerja keras: meeting, training, sistem, KPI. Tapi hasilnya tetap datar. Hal tersebut terjadi karena fixed mindset menciptakan tiga racun dalam organisasi:
Bayangkan seorang customer service yang mendapat komplain. Fixed mindset akan berkata, “SOP memang begitu, bukan salah saya.”
Sedangkan Growth mindset akan berkata, “Apa yang bisa saya perbaiki supaya pelanggan lebih puas?”
Yang pertama melindungi ego. Yang kedua melindungi bisnis.
Agar growth mindset bukan sekadar slogan, perusahaan perlu kerangka yang konkret. Di sinilah framework SHIFT bekerja.
S – State Mulai dari kesadaran. Apakah orang di perusahaan lebih sering menyalahkan situasi atau mencari solusi?
H – Hack Putuskan pola lama. Misalnya, ubah kalimat dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa.”
I – Implement Masukkan ke aktivitas harian: evaluasi, coaching, target setting, dan review kinerja.
F – Form Ulangi sampai menjadi kebiasaan. Growth mindset harus terlihat dalam cara meeting, memberi feedback, dan mengambil keputusan.
T – Transfer Budayakan ke seluruh organisasi, dari frontline sampai manajemen.
SHIFT inilah yang mengubah growth mindset dari teori menjadi mesin pertumbuhan.
Bayangkan dua tim marketing mendapat hasil kampanye yang buruk. Tim dengan fixed mindset berkata: “Market lagi sepi. Budget juga kecil. Wajar.”
Tim dengan growth mindset berkata: “Apa insight dari data? Channel mana yang tidak efektif? A/B testing apa yang bisa kita lakukan?”
Dalam tiga bulan, tim pertama tetap menyalahkan keadaan. Tim kedua menemukan pola baru, memperbaiki konten, dan akhirnya menaikkan conversion rate. Perbedaan bukan pada alat, tapi pada cara berpikir.
Di level individu juga sama. Seorang supervisor dengan fixed mindset takut melatih anak buahnya karena takut terlihat kalah pintar. Supervisor dengan growth mindset justru senang mengembangkan tim, karena ia tahu performa tim adalah cermin kepemimpinannya.
Di era perubahan cepat (AI, digitalisasi, dan disrupsi) yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling mau belajar.
Perusahaan dengan growth mindset:
Sebaliknya, perusahaan yang terjebak fixed mindset pelan-pelan ditinggal pasar, meski produknya dulu hebat.
Seperti Dani dan Bima di awal cerita, hasil akhir bukan ditentukan oleh bakat, tapi oleh cara berpikir.
Jadi, apakah organisasi Anda sedang membangun growth mindset, atau tanpa sadar memelihara fixed mindset?
Jawabannya dapat Anda temukan di kelas Growth Mindset bersama risconsulting. Yuk, daftar sekarang!
Related Tags

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508