January 26, 2026
Adrian, Kepala Divisi Pengembangan Produk dengan reputasi teknis yang luar biasa. Di perusahaan teknologinya yang sedang bertransformasi, ia dikenal sebagai "Arsitek Solusi". Namun, Adrian menyimpan sebuah kegelisahan besar: Proyek andalannya baru saja mengalami kegagalan pasar yang signifikan. Produk tersebut sangat canggih secara fitur, namun gagal menjawab kebutuhan mendasar pengguna. Adrian menyadari bahwa ia telah terjebak dalam perangkap klasik: membangun solusi luar biasa untuk masalah yang sebenarnya tidak ada.
Selama bertahun-tahun, Adrian memegang teguh prinsip bahwa inovasi adalah tentang keunggulan teknologi. Namun, realitas mulai menamparnya; ia menyadari bahwa ia membawa "dua kompas" ke meja kerja: kompas teknis untuk fungsionalitas dan kompas empati untuk relevansi manusia. Ia memahami bahwa tanpa peta navigasi yang tepat, timnya hanya akan berputar-putar di tengah ketidakpastian pasar.
Menemukan Peta Navigasi Double Diamond
Dalam upayanya mencari jalan keluar, Adrian menemukan sebuah konsep proses desain yang transformatif: Double Diamond. Kerangka kerja yang dipopulerkan oleh British Design Council ini mengubah paradigma berpikirnya, dari sekadar "membuat produk" menjadi "memecahkan masalah secara kreatif dan terukur".
Bagi Adrian, ini adalah sebuah wahyu profesional. Ia menyadari bahwa strategi Design Thinking melalui Double Diamond bertindak sebagai sebuah meta-kemampuan—kapasitas utama yang menentukan seberapa efektif investasi teknologi dapat dikonversi menjadi inovasi yang profitable. Berbeda dengan intuisi yang tidak menentu, kerangka kerja ini menawarkan disiplin manajerial yang dapat direplikasi melalui pola pikir divergen (meluas) dan konvergen (menyempit).
Perangkap Solusi untuk Masalah yang Tidak Ada
Titik balik strategis Adrian terjadi saat ia menerima "Panggilan Petualangan" untuk merombak total cara timnya bekerja. Kasus kegagalan produknya menjadi refleksi yang keras; ia baru menyadari bahwa kecanggihan teknis hanya menyumbang sebagian kecil bagi kesuksesan, sementara sebagian besar sisanya ditentukan oleh ketepatan dalam mendefinisikan masalah.
Adrian menyadari bahwa selama ini timnya mengalami bias internal yang kuat. Mereka terlalu cepat melompat ke tahap diskusi fitur tanpa memahami "Customer Jobs" yang sebenarnya ingin diselesaikan oleh pelanggan. Di saat kritis itu, Adrian yang sangat kompeten secara teknis secara harfiah "kehilangan arah" karena ia membangun sesuatu berdasarkan asumsi, bukan data lapangan yang valid.
Empat Fase Kreativitas Terukur Adrian
Tak ingin mengulangi kegagalan yang sama, Adrian mulai membangun kembali kematangan inovasi organisasinya melalui siklus Double Diamond yang disiplin:
Melangkah Keluar dari Zona Nyaman Adrian menahan dorongan tim untuk membahas fitur dan mengajak mereka terjun langsung ke lapangan. Melalui empati dan observasi mendalam, mereka menangkap masalah tersembunyi pengguna—persis seperti cara Nike menemukan solusi sepatu hands-free melalui observasi atlet adaptif.
Menemukan Fokus di Tengah Kebisingan Setelah mengumpulkan data mentah, Adrian menyaring kebisingan tersebut menjadi satu pernyataan masalah yang tajam. Ia memastikan tim tidak lagi mengerjakan hal-hal umum, melainkan fokus pada solusi yang benar-benar relevan dan diinginkan pasar.
Eksplorasi Solusi Tanpa Batas Dengan kompas masalah yang terkalibrasi, Adrian memimpin curah pendapat secara bebas. Melalui metode seperti "Crazy 8s", ia menciptakan lingkungan aman bagi tim untuk mengeksplorasi ide radikal dan mengubahnya menjadi prototipe atau Minimum Viable Product (MVP) untuk diuji secara cepat.
Memberikan Dampak Nyata di Pasar Pada tahap akhir, solusi yang telah divalidasi siap dihadirkan. Adrian tidak lagi merilis produk berdasarkan harapan kosong, melainkan berdasarkan data kuat. Ia memonitor metrik kesuksesan untuk memastikan produk tumbuh stabil dari fase pengenalan menuju kedewasaan.
Menjamin Nilai Produk di Pasar Kompetitif
Kini, Adrian memandang pengembangan produk dengan perspektif yang berbeda. Ia mengibaratkan bahwa jika teknologi adalah mesin jet yang memberikan kecepatan, maka Design Thinking melalui Double Diamond adalah sistem navigasinya. Adrian memastikan timnya mencapai target bisnis tanpa terhempas oleh ketidakpastian pasar, karena ia tahu bahwa inovasi yang disiplin jauh lebih berharga daripada kilatan jenius yang acak.
Mengoptimalkan Dampak melalui Kompetensi Inovasi
Perjalanan Adrian adalah pengingat bahwa keberhasilan inovasi bukan tentang keberuntungan, melainkan tentang kedisiplinan menjalankan kerangka kerja yang tepat. Adrian telah belajar dari kegagalannya: bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian untuk memahami masalah sebelum menawarkan solusi, agar setiap investasi produk bertransformasi menjadi nilai nyata bagi pengguna.
Apakah Anda merasa memiliki kesamaan tantangan dengan Adrian? Setelah belajar dari pengalaman Adrian, saatnya Anda mengambil kendali atas navigasi inovasi di organisasi Anda. Di risconsulting, kami percaya bahwa Design Thinking adalah kompetensi strategis yang harus dikuasai oleh setiap pemimpin produk.
Melalui pilar layanan 👉 Innovation & Incubation, kami siap membantu Anda menguasai metode Double Diamond agar setiap produk yang Anda luncurkan memiliki presisi data dan relevansi pasar yang akurat.
Segera konsultasikan kebutuhan transformasi bisnis Anda bersama kami di risconsulting.
Related Tags

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508