February 11, 2026
Bayangkan Anda adalah seorang kapten kapal yang berpengalaman. Selama dua dekade, Anda mengarungi lautan dengan peta kertas dan kompas magnetik. Anda hafal setiap rute. Namun, tiba-tiba kabut tebal turun, ombak berubah menjadi data digital yang tak kasat mata, dan awak kapal Anda mulai berbicara dalam bahasa yang tidak Anda mengerti—bahasa algoritma dan cloud computing.
Ini adalah situasi yang dihadapi oleh Daniel, seorang Senior Manager di sebuah perusahaan logistik yang mapan. Daniel adalah representasi dari pemimpin kompeten yang terjebak dalam situation dunia bisnis hari ini: era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) di mana perubahan terjadi begitu cepat dan tidak terprediksi. Daniel merasa posisinya aman karena perusahaannya baru saja mengadopsi teknologi terbaru.
Namun, di sinilah komplikasi itu muncul. Enam bulan setelah perusahaannya melakukan investasi besar-besaran pada perangkat lunak kolaborasi dan sistem data berbasis AI, produktivitas tim Daniel justru menurun. Alih-alih semakin cepat, timnya malah kebingungan.
Daniel mencoba memimpin dengan cara lamanya: memberikan instruksi satu arah dan mengontrol setiap keputusan. Ia berpikir bahwa transformasi digital hanyalah soal membeli alat baru. Akibatnya, ia menjadi bottleneck. Notifikasi di tabletnya menumpuk, keputusannya lambat karena ia tidak paham cara membaca dasbor data, dan timnya yang didominasi generasi muda merasa tidak memiliki otonomi. Daniel frustrasi; ia merasa seperti nahkoda yang memegang kemudi canggih, tetapi tidak tahu cara mengoperasikannya, sementara badai digital semakin mendekat.
Pertanyaan yang menghantui Daniel di malam hari bukan lagi tentang target penjualan, melainkan: "Apakah saya masih relevan? Bagaimana saya bisa memimpin tim ini jika saya sendiri tidak memahami 'bahasa' baru ini? Apakah saya harus menjadi ahli IT untuk menjadi pemimpin yang baik?"
Jawaban dari kegelisahan Daniel tidak ditemukan dalam buku manual perangkat lunak, melainkan dalam sebuah perjalanan transformasi diri melalui program pengembangan kepemimpinan. Di sana, Daniel diperkenalkan pada sebuah kerangka kerja Digital Leadership yang mengubah cara pandangnya secara fundamental.
Model ini tidak menuntut Daniel menjadi programmer. Model ini menekankan pada tiga pilar utama yang saling berhubungan:
Transformasi Daniel terjadi saat ia mengikuti sesi simulasi dalam program digital leadership tersebut. Awalnya, Daniel skeptis. Ia mengira akan duduk mendengarkan teori membosankan tentang manajemen. Namun, pengalamannya justru "jauh melampaui ekspektasi".
Dalam metode experiential learning yang diterapkan, Daniel dihadapkan pada skenario nyata di mana ia harus memecahkan masalah kompleks bersama tim dalam waktu singkat. Saat ia mencoba menggunakan gaya komandonya yang lama, tim simulasi macet. Fasilitator kemudian memberikan coaching dua arah, menantang Daniel untuk mengubah pendekatan melalui prinsip Digital Leadership.
Daniel menyadari bahwa tugasnya bukan lagi memberi jawaban, tapi mengajukan pertanyaan yang tepat agar timnya bisa berinovasi. Ia belajar bahwa dalam kepemimpinan digital, kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan data untuk perbaikan. Suasana kelas yang aktif dan apresiatif membuatnya berani melepas egonya dan mencoba pendekatan baru tanpa rasa canggung.
Kembali ke kantor, Daniel bukanlah orang yang berbeda, namun ia adalah pemimpin dengan "sistem operasi" yang baru. Penerapan framework Digital Leadership yang ia pelajari terlihat dalam rutinitas hariannya:
Ia memberikan kepercayaan pada timnya untuk bereksperimen, menciptakan lingkungan kerja yang inovatif di mana ide-ide baru didengar dan dihargai. Produktivitas timnya perlahan pulih, bahkan melesat melampaui target karena hambatan birokrasi telah dipangkas oleh kepercayaan dan data.
Kisah Daniel mengajarkan kita bahwa bahaya terbesar di era digital bukanlah ketidaktahuan akan teknologi, melainkan keengganan untuk mengubah cara kita memimpin. Jika Daniel tetap bersikeras dengan cara lamanya, ia mungkin akan kehilangan tim terbaiknya atau membuat perusahaannya kalah kompetisi karena lambat mengambil keputusan.
Tanpa Digital Leadership yang kuat, investasi teknologi miliaran rupiah hanya akan menjadi beban biaya, bukan aset strategis. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu menjembatani kesenjangan antara potensi teknologi dan kemampuan manusia.
Apakah Anda melihat diri Anda dalam cerita Daniel? Jangan biarkan ombak perubahan menenggelamkan potensi kepemimpinan Anda. Jika Anda ingin mendalami bagaimana membangun Digital Mindset, Skillset, dan Implementation yang solid melalui pendekatan Digital Leadership yang efektif, serta merasakan metode pembelajaran yang dinamis dan berdampak nyata, Risconsulting memiliki program Digitalization & Transformation yang dirancang khusus untuk kebutuhan Anda.
Temukan bagaimana kami dapat membantu Anda menavigasi masa depan di risconsulting.id.
Related Tags
Menavigasi Turbulensi Bisnis melalui Kepemimpinan Kolaboratif
Selamat Tinggal Cara Kuno: Revolusi Sales Modern dan Adaptif dengan Kekuatan AI
Feedback SBI Tanpa Konflik: Ubah Masalah Pemimpin Jadi Prestasi
Bukan Sekadar Bicara: Transformasi Komunikasi Pemimpin yang Menggerakkan Tim
Implementasi Design Thinking dalam Pengembangan Produk

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508