January 19, 2026
Bagaimana rasanya berdiri di titik tengah sebuah tali tambang yang ditarik kencang dari dua arah berlawanan?
Bagi banyak manajer lini tengah atau Sandwich Leader, ini adalah realitas yang pahit. Posisi ini menuntut keseimbangan akrobatik: Anda harus memuaskan visi strategis atasan (Managing Up) sekaligus menjaga kewarasan dan motivasi tim di lapangan (Managing Down). Tanpa keterampilan yang tepat, Anda bukan menjadi jembatan, melainkan korban yang remuk di tengah jalan.
Mari kita bedah solusinya melalui perjalanan karier Dimas.
Dahulu kala, Dimas adalah seorang top performer yang baru saja diangkat menjadi manajer. Ia percaya bahwa kerja keras dan lembur adalah kunci kesuksesan. Namun, jabatan barunya menempatkannya di posisi Sandwich Leader, ia harus melaporkan progres ke jajaran eksekutif yang tidak mau tahu soal kendala teknis, sembari memimpin mantan rekan-rekannya yang kini menjadi bawahannya.
Setiap hari, Dimas terjebak dalam kebingungan. Ketika direktur meminta efisiensi biaya (Managing Up), Dimas meneruskannya mentah-mentah ke tim. Akibatnya, tim merasa tidak didengar. Sebaliknya, ketika tim mengeluh soal beban kerja (Managing Down), Dimas menyampaikannya ke atasan sebagai keluhan, bukan data. Atasan menganggap Dimas tidak kompeten, dan tim menganggap Dimas tidak punya hati. Dimas stres, merasa terjepit di antara dua tembok batu yang keras.
Hingga suatu hari, sebuah target besar datang dengan tenggat waktu yang nyaris mustahil. Tim Dimas menolak bekerja lembur lagi, sementara direktur menuntut hasil instan. Dimas sadar, jika ia hanya mengandalkan "kerja keras" tanpa strategi komunikasi, timnya akan bubar dan kariernya akan tamat. Ia menyadari ada celah kompetensi yang besar dalam dirinya: ia tidak tahu caranya bernegosiasi ke atas dan memotivasi ke bawah.
Karena hal itu, Dimas memutuskan untuk berhenti mengeluh dan mulai membekali diri. Ia mengikuti program Leadership and Softskill+ dari risconsulting untuk mempelajari survival kit bagi seorang manajer. Di sana, Dimas menyadari bahwa Sandwich Leader membutuhkan empat keterampilan vital yang berbeda untuk Managing Up dan Managing Down:
Dimas belajar bahwa ia tidak boleh menjadi "tukang pos".
◦ Ke Bawah (Managing Down): Ia belajar menerjemahkan target angka yang dingin dari atasan menjadi misi yang bermakna bagi tim. Ia memecah visi besar menjadi tugas-tugas spesifik yang bisa dicerna.
◦ Ke Atas (Managing Up): Ia belajar mengubah keluhan tim menjadi bahasa bisnis. Saat tim kekurangan orang, Dimas tidak bilang "Kami capek", tapi "Kami butuh tambahan 1 personil agar target Q3 aman tercapai".
Dimas belajar berani berkata "tidak" kepada atasan dengan cara yang elegan. Saat diberi target tidak realistis, ia menggunakan data untuk mengajukan opsi solusi, bukan sekadar penolakan. Ia menawarkan alternatif rencana yang masuk akal namun tetap menguntungkan perusahaan.
Dimas menyadari bahwa timnya butuh didengar. Ia mulai mempraktikkan active listening. Ia menyediakan ruang aman bagi tim untuk curhat tanpa takut dihakimi, sehingga ia bisa mendeteksi burnout sebelum terlambat. Ini adalah kunci membangun kepercayaan.
Alih-alih mengerjakan semuanya sendiri karena takut salah (micromanagement), Dimas mulai menggunakan Eisenhower Matrix untuk memilah prioritas. Ia mendelegasikan tugas kepada anggota tim sesuai kekuatan mereka, memberi mereka kesempatan berkembang, sekaligus mengurangi beban di pundaknya sendiri.
Karena hal itu, Dimas kembali ke kantor dengan pendekatan baru. Saat atasan memberikan tekanan, ia merespons dengan data dan solusi, membuat atasan merasa tenang dan percaya. Saat tim merasa berat, ia hadir sebagai pelindung yang memberikan kejelasan prioritas dan dukungan moral, bukan sekadar bos yang menyuruh-nyuruh.
Hingga akhirnya, proyek tersebut selesai tepat waktu dengan kualitas prima. Lebih hebatnya lagi, tim Dimas tetap solid dan bahagia karena merasa dihargai. Atasannya pun memuji Dimas sebagai pemimpin yang mampu "mengendalikan situasi". Dimas berhasil mengubah posisi terjepitnya menjadi posisi strategis—ia kini adalah tulang punggung yang menghubungkan visi perusahaan dengan realitas lapangan.
Menjadi Sandwich Leader seperti Dimas bukanlah bakat bawaan, melainkan hasil dari penguasaan keterampilan spesifik (Managing Up & Down) yang bisa dipelajari.
Jangan biarkan posisi manajerial menjadi beban mental bagi Anda atau tim Anda. risconsulting hadir dengan program Leadership and Softskill+ yang dirancang khusus untuk melatih para manajer menguasai:
• Teknik komunikasi asertif kepada top management.
• Seni memotivasi dan memberdayakan tim (people management).
• Strategi manajemen konflik dan prioritas kerja.
Siap bertransformasi dari manajer yang "terhimpit" menjadi pemimpin yang "menghubungkan"? Daftarkan diri Anda atau Tim Anda untuk konsultasi program Leadership di risconsulting sekarang!
Related Tags

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508