February 09, 2026
64,2 juta dolar AS. Angka fantastis itu adalah rata-rata kerugian tahunan yang diderita perusahaan besar akibat komunikasi yang buruk, sementara perusahaan yang lebih kecil berisiko kehilangan ratusan ribu dolar setiap tahunnya.
Rusdi menatap layar laptopnya dengan nanar, menyadari bahwa divisi yang dipimpinnya mungkin sedang berkontribusi pada statistik suram tersebut. Laporan kinerja bulanan timnya merah total dan di meja kerjanya kini tergeletak surat pengunduran diri dari Sarah, anggota timnya yang paling potensial namun belakangan terlihat paling demotivasi.
Data dari survei NBO Leadership menunjukkan bahwa 64% kekhawatiran utama dalam keterlibatan staf (engagement) di Indonesia memang berakar pada kemampuan manajemen dan kepemimpinan itu sendiri. Rusdi sadar, masalahnya bukan pada timnya, tapi pada cermin di depannya. Ia menyadari bahwa ia perlu segera mengasah keterampilan leadership miliknya.
Sebagai manajer yang baru dipromosikan, Rusdi terjebak dalam peran "Transactional Leader" yang hanya fokus pada supervisi harian dan target jangka pendek tanpa membangun visi bersama. Ia lupa bahwa peran strategis seorang pemimpin bukan sekadar memastikan pekerjaan selesai tetapi menginspirasi perubahan positif. Ia membutuhkan transformasi mendasar dalam leadership style miliknya agar tim ini selamat. Salah satu pilar utamanya adalah membangun keterampilan leadership yang lebih visioner.
Rusdi memutuskan untuk berhenti berbicara dan mulai mendengarkan. Ia menyadari selama ini gaya komunikasinya satu arah. Padahal, laporan Economist Intelligence Unit menyebutkan bahwa gaya komunikasi yang berbeda adalah penyebab paling sering dari buruknya komunikasi di tempat kerja.
Dalam rapat evaluasi berikutnya, Rusdi mempraktikkan Active Listening. Ia menyingkirkan ponselnya, menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan, dan memberikan perhatian penuh pada keluhan Sarah dan rekan-rekannya. Ia belajar bahwa empati adalah kunci dari keterampilan leadership yang efektif. Sebuah survei menunjukkan 96% karyawan menganggap empati penting, namun 92% merasa hal itu masih kurang dihargai di tempat kerja.
Perubahan kecil ini berdampak besar. Ketika Rusdi mulai bertanya "Ceritakan lebih lanjut" alih-alih langsung menghakimi, ia menemukan bahwa kemarahan Sarah bukan karena beban kerja, melainkan karena ketidakjelasan prioritas yang membuatnya stres. Di sinilah keterampilan leadership Rusdi diuji untuk memberikan kejelasan (clarity) dan transparansi.
Tantangan terbesar Rusdi datang ketika harus menegur Soleh, anggota tim lain yang sering terlambat mengirim laporan. Dulu, Rusdi akan langsung berkata, "Kamu malas sekali, Soleh!" sebuah pelabelan yang justru memicu sikap defensif. Kali ini, Rusdi menerapkan teknik I-Statement yang ia pelajari sebagai bagian dari penguatan keterampilan leadership personalnya. Teknik ini fokus pada pengamatan netral, perasaan, kebutuhan, dan permintaan tanpa menghakimi.
"Soleh, saya merasa khawatir ketika laporan terlambat (perasaan), karena tim membutuhkan data tersebut untuk membuat keputusan tepat waktu (kebutuhan). Saya minta agar laporan berikutnya dikirim sebelum jam 5 sore (permintaan)," ujar Rusdi dengan nada tenang.
Hasilnya mengejutkan. Soleh tidak membela diri, melainkan meminta maaf dan menjelaskan kendala teknis yang sebenarnya bisa diselesaikan jika dikomunikasikan lebih awal. Umpan balik yang efektif haruslah deskriptif, spesifik, dan tidak menyerang pribadi. Rusdi belajar bahwa tujuan feedback bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk membantu satu sama lain melakukan pekerjaan dengan lebih baik.
Transformasi yang dilakukan Rusdi bukanlah sihir, melainkan hasil dari pembelajaran terstruktur. Keterampilan leadership dalam mengelola manusia ini ia asah melalui Public Class bertajuk "Core Leadership Skills for Managing People Effectively" di risconsulting.
Program ini dirancang khusus untuk manajer, asisten manajer, dan team leader yang sering kesulitan menegur atau memotivasi tim. Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diajarkan teori tetapi juga dibimbing untuk:
Melalui metode interaktif, Rusdi menyadari bahwa leadership bukan bakat lahir, tapi keterampilan yang bisa dilatih.
Dalam perjalanan transformasinya, Rusdi teringat pada prinsip Sam Walton, pendiri Walmart. Walton pernah berkata:
"Outstanding leaders go out of their way to boost the self-esteem of their personnel. If people believe in themselves, it’s amazing what they can accomplish."
Prinsip inilah yang kini dipegang Rusdi. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai bos yang menunjuk-nunjuk, melainkan pelatih yang membangun kepercayaan diri timnya.
Satu bulan kemudian, suasana di divisi Rusdi berubah total. Sarah menarik kembali surat pengunduran dirinya karena merasa didengar dan dihargai. Produktivitas tim meningkat karena komunikasi yang lebih cair dan umpan balik yang rutin serta membangun.
Kisah Rusdi membuktikan bahwa kegagalan tim sering kali bukan karena kurangnya kompetensi teknis, melainkan kurangnya keterampilan leadership sang pemimpin. Jangan biarkan tim Anda menjadi bagian dari statistik kerugian perusahaan. Mengasah leadership skill adalah investasi terbaik yang bisa Anda lakukan hari ini.
Ingin menguasai keterampilan seperti Rusdi? Daunftarkan diri Anda atau tim Anda ke Public Training bersama risconsulting di Core Leadership Skills for Managing People Effectively. Jangan tunggu sampai krisis terjadi. Jadilah pemimpin yang membawa solusi.
Related Tags

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508