February 09, 2026
Bayangkan suasana ruang rapat di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta Selatan pada hari Senin pagi. Di ujung meja duduk Pak Budi, seorang Baby Boomer dan Direktur Operasional yang sangat menghargai struktur dan tatap muka. Di ujung lainnya ada Sarah, staf marketing Gen Z yang brilian, sedang menunduk menatap layar tabletnya.
Pak Budi merasa tidak dihargai. Dalam benaknya, "Anak muda zaman sekarang tidak punya sopan santun saat rapat." Padahal, di saat yang sama, Sarah sedang mencatat poin rapat secara real-time di cloud dan mencari data pendukung untuk argumen Pak Budi.
Ini adalah adegan klasik "Perang Dingin" di kantor modern. Bukan karena mereka saling membenci, tetapi karena mereka berbicara dalam "frekuensi" yang berbeda. Kegagalan memahami Seni Komunikasi dalam menyamakan frekuensi ini bukan masalah sepele; ini adalah bom waktu yang bisa meledakkan produktivitas tim.
Agar drama Pak Budi dan Sarah tidak terjadi di kantor Anda, langkah pertama adalah memahami siapa lawan bicara Anda. Setiap generasi dibentuk oleh peristiwa sejarah dan teknologi yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan Seni Komunikasi yang berbeda pula:
Namun, memahami label generasi saja tidak cukup. Anda bisa saja bertemu Baby Boomer yang santai atau Gen Z yang sangat kaku. Di sinilah kita butuh alat bantu kedua dalam Seni Komunikasi, yaitu Framework DISC. Ini adalah "alat bedah" untuk melihat gaya komunikasi seseorang lebih dalam:
Rahasia keberhasilan dalam Seni Komunikasi yang sukses adalah menggabungkan kedua pemahaman ini. Bayangkan seorang Gen Z dengan tipe Compliance (C). Dia mungkin tidak banyak bicara di grup WhatsApp kantor (khas Gen Z yang menjaga privasi), tapi dia akan sangat kritis jika data yang Anda sajikan salah.
Apa yang terjadi jika kita abai terhadap pentingnya Seni Komunikasi? Contoh nyata bahayanya adalah fenomena Quiet Quitting atau bahkan turnover yang tinggi.
Mari kembali ke cerita Pak Budi. Karena merasa Sarah tidak sopan, Pak Budi mungkin menegurnya dengan keras di depan umum (Gaya Baby Boomer tipe Dominance). Sarah, yang sebenarnya sangat peduli pada pekerjaannya tapi sensitif terhadap isu kesehatan mental dan respect (Gaya Gen Z), akan merasa dipermalukan dan dianggap tidak kompeten.
Dampaknya fatal. Sarah tidak akan melawan secara terbuka. Dia akan menarik diri, bekerja seperlunya (quiet quitting), dan diam-diam melamar ke perusahaan lain yang lebih "paham" gaya kerjanya. Perusahaan kehilangan talenta muda potensial hanya karena pemimpinnya gagal melakukan adaptasi gaya komunikasi.
Lebih buruk lagi, ketegangan ini sering membebani "Middle Manager" (biasanya Gen Millennial atau Gen X) yang harus menjadi penyangga di antara keduanya. Riset menunjukkan manajer yang terjepit ini sering mengalami burnout karena beban kerja emosional yang berat.
Dunia kerja modern menuntut kita menjadi "polyglot" budaya—mampu menerapkan Seni Komunikasi bahasa Baby Boomer saat rapat direksi, dan beralih ke bahasa Gen Z saat brainstorming konten media sosial.
Kunci utamanya adalah empati yang strategis. Saat Anda berbicara dengan Gen Z, tunjukkan bahwa Anda menghargai waktu dan well-being mereka. Saat berbicara dengan Baby Boomer, tunjukkan respek pada pengalaman mereka. Gunakan DISC untuk menyesuaikan cara penyampaiannya—apakah harus tegas (D), ceria (I), lembut (S), atau detail (C).
Jangan biarkan celah generasi menjadi jurang pemisah di kantor Anda. Ubah perbedaan usia dan kepribadian ini menjadi orkestra yang harmonis, di mana setiap instrumen memainkan perannya dengan indah untuk mencapai tujuan perusahaan.
Apakah Anda siap mengubah konflik di kantor menjadi kolaborasi yang produktif? Jangan biarkan kesalahpahaman menghancurkan tim Anda! Yuk, gabung kelas bersama Risconsulting.
Related Tags

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508