January 21, 2026
Koko duduk termangu di ruang kerjanya sambil menatap grafik retensi pelanggan yang datar selama tiga bulan terakhir. Sebagai manajer operasional di sebuah perusahaan ritel yang sedang berkembang, ia merasa timnya sudah bekerja sesuai prosedur: menyapa, melayani transaksi, dan mengucapkan terima kasih. Namun, ada tembok tak terlihat antara bisnisnya dan pelanggannya. Orang-orang datang membeli karena butuh, lalu pergi dan melupakan tokonya begitu saja. Tidak ada ikatan, tidak ada cerita.
Titik balik Koko dimulai ketika ia menyadari bahwa selama ini ia memulai bisnis dari arah yang salah. Ia terlalu sibuk memikirkan apa yang ia jual, hingga lupa mengapa ia melayaninya.
Dalam upaya mencari solusi, Koko teringat pada konsep Golden Circle dari Simon Sinek. Selama ini, Koko dan timnya selalu berkomunikasi dari lingkaran terluar, yaitu What (Apa yang kami lakukan: menjual produk berkualitas) dan How (Bagaimana caranya: dengan harga kompetitif). Mereka melupakan inti terdalamnya: Why.
Koko belajar bahwa "orang tidak membeli apa yang Anda lakukan, mereka membeli mengapa Anda melakukannya". Ia kemudian mengubah narasi timnya. Tujuan mereka bukan sekadar mencetak struk penjualan, tetapi untuk memberikan kenyamanan dan solusi bagi kehidupan pelanggan. Ketika Koko memulai dari Why, ia menyadari bahwa service excellence adalah kemampuan untuk menyentuh sisi emosional manusia, bukan sekadar kecepatan transaksi.
Dengan mindset baru yang berfokus pada "Why", Koko tidak lagi menebak-nebak langkah pelanggannya. Ia mulai menyusun Customer Journey Map untuk memvisualisasikan pengalaman pelanggan secara utuh, dari awal hingga akhir.
Mengacu pada struktur standar yang efektif, Koko memetakan perjalanan pelanggannya ke dalam lima tahap krusial:
Tahap saat calon pelanggan pertama kali melihat brand Koko melalui iklan digital. Di sini, Koko memastikan pesan yang sampai adalah tentang empati dan solusi masalah, bukan sekadar hard selling.
Saat pelanggan membandingkan produk. Koko melatih timnya untuk hadir sebagai konsultan yang membantu, mengurangi keraguan pelanggan.
Momen transaksi. Koko memastikan proses ini berjalan tanpa hambatan (frictionless), karena kemudahan adalah kunci kepuasan.
Apa yang terjadi setelah mereka pulang? Koko merancang program follow-up personal untuk menjaga hubungan jangka panjang.
Tahap emas di mana pelanggan yang puas dengan sukarela merekomendasikan toko Koko kepada teman-temannya.
Koko menyadari bahwa di setiap titik sentuh (touchpoint) ini, timnya harus hadir untuk menghilangkan "rasa sakit" (pain points) pelanggan.
Untuk menanamkan pemahaman mendalam tentang service excellence kepada timnya, Koko menceritakan kisah nyata tentang Doug Dietz dari GE Healthcare.
Doug adalah perancang mesin MRI yang jenius. Secara teknis, mesin ciptaannya sempurna. Namun, ia hancur saat melihat seorang gadis kecil menangis ketakutan karena menganggap mesin MRI itu seperti "batu bata raksasa yang menyeramkan". Doug sadar, teknologinya sukses, tapi pengalaman manusianya gagal total.
Doug tidak kembali ke laboratorium untuk memperbaiki teknis mesinnya. Ia menggunakan pendekatan Design Thinking dan empati. Ia mengubah pengalaman MRI itu menjadi "Adventure Series". Ruang MRI disulap menjadi kapal bajak laut, dan suara bising mesin dinarasikan sebagai suara mesin kapal.
Hasilnya ajaib. Tingkat ketakutan anak-anak turun drastis, bahkan ada yang bertanya, "Besok boleh main ke sini lagi?". Dari kisah Doug Dietz ini, Koko menekankan kepada timnya bahwa inovasi layanan tidak harus mengubah produk inti, tetapi mengubah pengalaman dan perasaan pelanggan saat menggunakannya.
Koko sadar, visi tanpa eksekusi hanyalah halusinasi. Untuk memimpin perubahan budaya dari "transaksional" menjadi "melayani dengan hati", ia membutuhkan skill kepemimpinan yang mumpuni. Di sinilah Koko merasakan dampak nyata dari program Leadership Training di risconsulting.
Melalui program tersebut, Koko dilatih untuk menjadi pemimpin level Expert/Leader yang mampu memonitor tren dan mengimplementasikan solusi inovatif. risconsulting mengajarkan Koko tentang Creative Confidence, keyakinan bahwa ia dan timnya mampu mengubah masalah menjadi peluang.
Berbekal pelatihan ini, Koko tidak hanya memerintah dari balik meja. Ia:
• Melakukan Empathize dengan turun langsung ke lapangan untuk merasakan apa yang dirasakan pelanggan.
• Mengajak timnya untuk tidak takut melakukan Prototyping ide layanan baru.
• Membangun budaya di mana setiap keluhan pelanggan didengar tanpa sikap defensif.
Enam bulan berlalu. Grafik penjualan di komputer Koko tidak lagi datar, melainkan menanjak stabil. Namun yang lebih membahagiakan bagi Koko adalah suasana tokonya. Pelanggan datang dengan senyum, menyapa staf dengan nama, dan kembali lagi membawa teman.
Koko berhasil membuktikan bahwa ketika bisnis dimulai dari Why, dipetakan melalui Customer Journey yang rapi, dan dipimpin dengan empati, maka service excellence adalah hasil alami yang akan tercipta. Bisnisnya kini bukan sekadar tempat jual-beli, tapi tempat di mana pelanggan merasa dimengerti.
Jangan biarkan bisnis Anda terjebak dalam rutinitas yang kaku. Pelanggan Anda adalah manusia yang merindukan koneksi dan pengalaman yang luar biasa.
Jika Anda siap membangun pemimpin yang mampu menggerakkan inovasi berbasis empati dan menciptakan customer journey yang tak terlupakan, risconsulting siap mendampingi Anda.
Melalui program pelatihan softskill di risconsulting, temukan cara mengubah tantangan pelayanan menjadi solusi yang dicintai pelanggan.
Hubungi risconsulting sekarang dan mulailah perjalanan Service Excellence Anda!
Related Tags
Explore highlights from our latest public classes — insights, tips, and stories designed to inspire and educate.
Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508