Assessment Center

January 14, 2026

Strategi Asesmen dengan Menggali Lewat Behavioral Event Interview - BEI

strategi-asesmen-dengan-menggali-lewat-behavioral-event-interview

Sebagian besar kegagalan talenta bukan terjadi setelah orang ditempatkan, tetapi saat keputusan dibuat. CV yang meyakinkan dan kinerja masa lalu sering menipu, sementara kesiapan peran, pola kepemimpinan, dan risiko kegagalan diabaikan. Ketika intuisi menggantikan pengukuran yang objektif, organisasi sebenarnya sedang berjudi dengan masa depannya. Assessment bukan alat administratif—melainkan mekanisme mitigasi risiko bisnis.

Kisah klasik "salah promosi" sering terjadi ketika keputusan hanya didasarkan pada impresi atau data administratif belaka. Kandidat eksternal bisa saja gagal melebur dengan budaya kerja, sementara karyawan yang dipromosikan ternyata belum memiliki kompetensi yang cukup untuk peran barunya. Untuk memitigasi risiko, perusahaan beralih menggunakan pendekatan Asesmen Kompetensi (Competency Assessment). Asesmen adalah mekanisme evaluasi menyeluruh dan terstandarisasi untuk memotret profil kompetensi seseorang secara utuh. Dalam asesmen, berbagai simulasi digunakan, mulai dari psikotes, analisis kasus, hingga diskusi kelompok, untuk mengukur potensi keberhasilan seseorang di peran yang baru.

Di tengah rangkaian asesmen kompetensi, tahap wawancara menjadi validasi yang krusial.  Agar asesmen tepat sasaran, diperlukan metode yang berbasis bukti empiris. Di sinilah Behavioral Event Interview (BEI) memegang peran sebagai salah satu instrumen dalam asesmen.

Apa itu BEI?

Behavioral Event Interview (BEI) adalah teknik wawancara terstruktur yang dirancang untuk mengevaluasi kompetensi kandidat dengan membedah tindakan nyata mereka di masa lalu. BEI merupakan adaptasi dari critical-incident interview yang dikembangkan untuk menemukan perbedaan nyata antara individu yang berkinerja "luar biasa" (outstanding) dan mereka yang "biasa saja" (typical).

Melalui metode Behavioral Event Interview (BEI), narasi wawancara diubah drastis. Pertanyaan tidak lagi dimulai dengan pengandaian "Bagaimana jika...", melainkan menuntut bukti otentik lewat kalimat "Ceritakan saat Anda...",. Peran seorang asesor harus bertindak layaknya detektif yang tidak puas hanya dengan jawaban teoretis.

Mendeteksi Kompetensi dengan Metode STAR

Bagi seorang asesor yang terlatih, metode STAR (Situation, Task, Action, Result) bukan sekadar panduan bagi kandidat untuk bercerita, melainkan alat bedah untuk memisahkan fakta dari fiksi.

  1. Situation (Situasi) Ketika kandidat menceritakan tantangan yang dihadapi, asesor menilai validitas konteksnya. Apakah situasi tersebut cukup kompleks? Apakah tekanan yang digambarkan nyata? Ini adalah 15% bagian cerita yang menjadi fondasi kredibilitas.
  2. Task (Tugas) Di sini, asesor melihat kejelasan peran. Apakah kandidat memahami ekspektasi yang dibebankan padanya? Seorang talenta unggul tahu persis apa misinya dalam situasi krisis.
  3. Action (Tindakan) Asesor akan menajamkan pendengaran untuk mendeteksi kata ganti. Kandidat yang kurang kompeten sering bersembunyi di balik kata "Kami" atau memberikan jawaban normatif seperti "Kami bekerja keras". Sebaliknya, talenta terbaik akan berani menggunakan kata "Saya" dan merinci langkah spesifik: bagaimana ia berpikir, keputusan sulit apa yang ia ambil, dan bagaimana ia memengaruhi orang lain. Di sinilah kompetensi teknis dan soft skill teruji secara bersamaan.
  4. Result (Hasil) Asesor mencari bukti dampak nyata yang terukur. Bahkan jika hasilnya gagal, asesor menilai apakah ada proses pembelajaran (self-reflection) yang jujur.

Mengapa Transformasi ke BEI Sangat Krusial?

BEI dirancang untuk menavigasi kembali ke momen-momen kritis tersebut guna melihat perbedaan pola pikir dan tindakan:

  1. Kedalaman Niat (Intent): Karyawan Typical mungkin melakukan pekerjaan karena "itu adalah SOP-nya". Sebaliknya, karyawan Outstanding sering didorong pemahaman yang lebih dalam, seperti keinginan untuk melayani pelanggan di luar ekspektasi atau dorongan melakukan inovasi efisiensi. BEI mampu menangkap nuansa motivasi ini melalui pertanyaan probing (penggalian) yang mendalam.
  2. Kompleksitas Berpikir: Ketika menghadapi masalah, individu Typical cenderung memberikan solusi linear atau reaktif. Melalui BEI, asesor dapat melihat bahwa individu Outstanding cenderung berpikir secara sistemik. Mereka mampu menceritakan bagaimana mereka mempertimbangkan dampak jangka panjang, risiko politik, dan dinamika tim sebelum mengambil keputusan.
  3. Kecerdasan Emosional dan Aksi: Dalam wawancara biasa, siapa pun bisa mengaku "bisa bekerja sama". Namun dalam BEI, perbedaan itu nyata. Individu Typical mungkin hanya mengatakan, "Saya meminta tim untuk tenang." Sementara individu Outstanding akan mendeskripsikan langkah spesifik. Detail perilaku inilah yang memisahkan seorang manajer biasa dengan pemimpin hebat.

Faktor X: Peran Vital Sang Asesor

Memiliki panduan pertanyaan BEI saja tidak menjamin keberhasilan proses asesmen. Kandidat masa kini semakin cerdas; mereka bisa melatih jawaban STAR agar terdengar meyakinkan. Tantangan terbesar ada di sisi meja pewawancara.

Metode yang canggih sekalipun akan kehilangan validitasnya jika dieksekusi oleh evaluator yang tumpul. Diperlukan asesor yang terlatih untuk:

  • Mendeteksi kebohongan atau jawaban yang "dipoles".
  • Melakukan probing yang tajam untuk menggali motif di balik tindakan.
  • Membedakan mana kontribusi pribadi kandidat dan mana hasil kerja tim.

Namun, metode secanggih apa pun akan tumpul jika tidak dieksekusi oleh ahli yang tepat, mengingat kandidat masa kini semakin cerdas dalam memoles jawaban mereka. Untuk memastikan Anda tidak terjebak dalam pencitraan kandidat, Untuk memastikan keputusan talenta didukung oleh pemahaman yang utuh, risconsulting menghadirkan layanan Assessment Center yang komprehensif dan terstandarisasi. Melalui pendekatan Competency Assessment, evaluasi tidak hanya bertumpu pada wawancara, tetapi diperkaya dengan berbagai simulasi—mulai dari psikotes, analisis kasus, hingga diskusi kelompok—yang dirancang untuk memotret kesiapan peran secara objektif. Didukung oleh tim asesor berpengalaman dalam teknik Behavioral Event Interview (BEI), risconsulting membantu organisasi menggali potensi yang sesungguhnya, meminimalkan bias, dan memastikan setiap proses asesmen relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini maupun ke depan.

Pelajari lebih lanjut layanan Assessment Center risconsulting atau diskusikan kebutuhan asesmen organisasi Anda bersama tim kami.

🔗 https://risconsulting.id/product/assessment (HAA)

Related Tags

#asesmen
#Behavioral Event Interview
#assessment
Risconsulting

Kami adalah solusi kreatif untuk kapabilitas & kapasitas di era digital.

Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami. Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Mulai Konsultasi Gratis
Risconsulting

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470

info@ris.co.id
(021) 278 99 508