Leadership and Softskill+

January 29, 2026

Apa itu Grit: Strategi Mengubah Potensi menjadi Prestasi

strategi-mengubah-potensi-menjadi-prestasi

Lanskap bisnis global telah berevolusi melampaui sekadar gejolak menjadi era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible). Di dunia baru, sistem yang terlihat kokoh di permukaan sering rapuh dan retak seketika, sementara masa depan bukan lagi sekadar 'tidak pasti', melainkan sulit dipahami sepenuhnya.

Sayangnya, strategi pencarian SDM banyak perusahaan belum beradaptasi dengan realitas. Kita masih terjebak bahwa 'bakat' setara dengan IQ tinggi dan latar belakang akademis. Namun, data menunjukkan di dunia yang rapuh (Brittle), kecerdasan tidak menjamin ketahanan mental. Tanpa elemen ketangguhan, talenta terbaik bisa dengan mudah hancur di bawah tekanan kompetisi bisnis.

Mari kita lihat sebuah ilustrasi. Dina, Management Trainee berusia 24 tahun di sebuah perusahaan agribisnis raksasa. Dina direkrut karena lulusan terbaik dengan kecerdasan kognitif di atas rata-rata. Namun, enam bulan kemudian, kita menemukannya berdiri di tengah perkebunan sawit, sepatu penuh lumpur, menatap laporan penjualan yang merah, dan siap untuk menyerah. Kecerdasannya tidak mempersiapkannya menghadapi penolakan distributor yang kasar atau birokrasi lapangan yang rumit.

Kasus Dina adalah cerminan dari masalah yang dihadapi ribuan perusahaan: Karyawan cerdas yang "layu" sebelum berkembang. Data empiris dan riset psikologi organisasi modern mengungkapkan fakta yang berbeda: bakat saja tidak cukup. Kunci untuk kinerja berkelanjutan, retensi karyawan tinggi, dan inovasi jangka panjang adalah sebuah atribut karakter yang disebut Grit.

Apa Itu Grit?

Istilah ini dipopulerkan oleh psikolog Angela Duckworth melalui riset bertahun-tahun. Grit adalah kombinasi antara hasrat (passion) dan kegigihan (perseverance) dalam mencapai tujuan jangka panjang.

Penting dipahami grit berbeda dengan kerja keras atau semangat sesaat. Grit berbicara mengenai stamina dan daya tahan. Dalam konteks profesional, individu yang memiliki grit (atau gritty) memandang pencapaian karier sebagai lari maraton, bukan sprint.

Dua komponen utama yang membentuk grit adalah:

  1. Passion

Passion bukan tentang intensitas emosi yang meledak seperti yang dialami Dina di bulan pertamanya. Passion dalam grit adalah tentang konsistensi. Karyawan yang gritty tidak mudah teralihkan oleh kebosanan atau ide baru yang sekadar berkilau.

  1. Perseverance (Kegigihan)

Kapasitas untuk bangkit kembali setelah jatuh. Ketika menghadapi rintangan, individu dengan grit tinggi tidak melihat sebagai sinyal berhenti, melainkan sebagai masalah yang harus dipecahkan.

Mengapa Karyawan Berbakat Sering Gagal? (Fenomena Talent Trap)

Kembali ke kasus Dina. Mengapa ia hampir resign meskipun sangat berbakat? Masalahnya terletak pada ekspektasi akan kemudahan. Karyawan yang terbiasa dianggap "pintar" sering memiliki toleransi rendah terhadap kesulitan. Ketika usaha awal tidak membuahkan hasil instan (seperti grafik penjualan yang stagnan), mereka kehilangan motivasi.

Tanpa intervensi pelatihan yang tepat, organisasi Anda berisiko kehilangan talenta terbaik saat tantangan lapangan sebenarnya dimulai. Di sinilah urgensi membangun budaya grit. Riset menunjukkan bahwa grit sering menjadi prediktor kesuksesan yang akurat daripada IQ dalam domain yang menantang, mulai dari akademi militer hingga penjualan korporasi.

Strategi Soft Skills: Mengelola Psikologi Kinerja

Selain kepemimpinan, grit dibangun dari dalam individu melalui pelatihan soft skills yang terstruktur. Berikut adalah tiga pilar utama yang perlu dikuasai oleh tim Anda:

1. Membangun Hierarki Tujuan (Goal Hierarchy)

Salah satu alasan utama karyawan kehilangan motivasi adalah hilangnya makna. Mereka terjebak pada tugas-tugas "remeh" seperti administrasi atau cold calling.

Pelatihan mengajarkan karyawan menyusun Goal Hierarchy.

  • Level Bawah: Tugas harian (administrasi, kunjungan lapangan).
  • Level Menengah: Target kuartal, pengembangan skill.
  • Level Puncak (Superordinat): Visi karier dan kontribusi sosial.

Ketika Dina diajarkan untuk menghubungkan "lumpur di sepatu" (tugas level bawah) dengan visi "ketahanan pangan nasional" (tujuan puncak), terjadi lonjakan pada keterlibatan kerjanya (work engagement). Karyawan yang memahami "MENGAPA" mereka bekerja akan mampu menanggung segala bentuk "BAGAIMANA" pekerjaannya.

2. Membedakan Diligence vs Tenacity

Grit sering disalahartikan sebagai keras kepala. Kedua hal tersebut dapat bedah dalam nuansa ini:

  • Diligence (Kerajinan): Etos kerja, disiplin bangun pagi, dan menyelesaikan tugas.
  • Tenacity (Keteguhan Hati): Sikap pantang menyerah pada tujuan akhir.

Namun, penting juga mengajarkan fleksibilitas. Ketika strategi penjualan Dina gagal, grit bukan berarti mengulang cara yang sama (insanity). Dengan Growth Mindset, grit berarti teguh pada tujuan akhir (penjualan), namun fleksibel mengubah strategi (misalnya, beralih dari perang harga ke pendekatan konsultatif teknis).

3. Deliberate Practice (Latihan yang Disengaja)

Bakat adalah kemampuan natural, tetapi skill adalah hasil dari latihan. Karyawan yang gritty bersedia terus berlatih pada area kelemahan secara spesifik dan berulang meskipun dirasa tidak nyaman. Inilah yang mengubah potensi menjadi keahlian nyata.

Mengapa Perusahaan Anda Membutuhkan Pelatihan Ini Sekarang?

Dunia bisnis tidak akan menjadi lebih mudah. Kompetisi semakin ketat dan perubahan teknologi semakin cepat. Mengandalkan "karyawan pintar" saja adalah strategi yang rapuh. Anda membutuhkan pejuang seperti individu yang memiliki karakter untuk bertahan saat Rencana A gagal, kecerdasan emosional untuk mengelola tekanan, dan kepemimpinan untuk menginspirasi tim.

Grit bukan sesuatu yang statis atau bawaan lahir; ia seperti otot yang dilatih dan diperkuat melalui metode yang tepat. Namun, upaya ini memerlukan pendekatan sistematis yang menggabungkan intervensi kepemimpinan, desain pekerjaan, dan pengembangan psikologis individu.

Konsultasikan Kebutuhan Pengembangan SDM Anda Bersama risconsulting

Apakah Anda siap mengubah tim Anda menjadi angkatan kerja yang tidak hanya kompeten, tetapi juga tangguh dan tak terhentikan seperti transformasi yang dialami Dina?

👉Risconsulting mengkhususkan diri dalam menerjemahkan riset psikologi kinerja terkini menjadi program pelatihan yang praktis dan berdampak tinggi. Kami tidak hanya memberikan motivasi sesaat; kami memberikan kerangka kerja (framework) perilaku yang mengubah cara tim Anda bekerja.

Layanan unggulan risconsulting mencakup:

  • Strategic Leadership Training: Melatih manajer Anda menjadi arsitek budaya yang mampu memicu motivasi intrinsik bawahan.
  • Resilience & Grit Workshop: Mengajarkan teknik Goal Hierarchy, Growth Mindset, dan manajemen ketangguhan mental.

Jangan biarkan potensi tim Anda tergerus oleh tantangan pasar. Hubungi 👉 Risconsulting hari ini untuk sesi konsultasi guna memetakan strategi pengembangan SDM yang tepat bagi perusahaan Anda.

Related Tags

#Grit adalah
#Grit
#Apa itu Grit
Risconsulting

Kami adalah solusi kreatif untuk kapabilitas & kapasitas di era digital.

Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami. Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Mulai Konsultasi Gratis

New Article

Discover our latest articles and insights

Risconsulting

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470

info@ris.co.id
(021) 278 99 508