Leadership and Softskill+

January 23, 2026

Bedah Akar Masalah Bisnis menggunakan Fishbone

bedah-akar-masalah-bisnis-menggunakan-fishbone

Suasana di ruang rapat lantai 12 terasa begitu dingin, bukan karena pendingin ruangan yang bekerja maksimal, melainkan karena keheningan yang mencekam di antara tim pemasaran. Sarah, sang Marketing Manager, menatap layar proyektor dengan nanar. Grafik penjualan bulan ini menunjukkan garis merah yang menukik tajam ke bawah. Target leads (calon pelanggan potensial) meleset hingga 40% dari KPI.

Biasanya, rapat evaluasi bulanan ini akan berubah menjadi ajang saling tuding. Tim kreatif akan membela diri bahwa visual mereka sudah estetik, tim ads performance akan bersikeras bahwa budget iklan sudah dioptimalkan, dan tim konten akan menyalahkan algoritma media sosial yang berubah-ubah. "Ini bukan salah kami," adalah kalimat yang menggantung di ujung lidah setiap orang. Namun, Sarah tahu bahwa menyalahkan keadaan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Ia membutuhkan cara yang sistematis untuk membongkar kekusutan ini. Ia membutuhkan problem solving yang terstruktur, bukan sekadar asumsi.

Menghentikan Budaya Saling Tuding 

Sarah berdiri dan berjalan menuju papan tulis putih di ujung ruangan. Ia mengambil spidol hitam dan menarik satu garis lurus horizontal dengan bentuk kotak di ujung kanannya, menyerupai kepala ikan. Di dalam kotak itu, ia menulis masalah utama mereka: "Penurunan Leads Marketing Sebesar 40%."

"Teman-teman," suara Sarah memecah keheningan. "Hari ini kita tidak akan mencari siapa yang salah. Kita akan mencari apa yang salah. Kita akan menggunakan diagram Fishbone."

Wajah-wajah bingung mulai terlihat. Beberapa anggota tim junior mungkin pernah mendengarnya, tapi jarang melihatnya diterapkan secara langsung dalam kasus marketing yang genting. Sarah menjelaskan bahwa metode ini, yang juga dikenal sebagai diagram sebab-akibat, akan membantu mereka memetakan akar masalah dari berbagai perspektif tanpa bias emosional.

Ia kemudian menarik garis-garis miring yang menyirip dari garis utama, membentuk tulang-tulang ikan. Di setiap ujung tulang itu, ia menuliskan kategori utama yang relevan dengan operasional marketing mereka: Man (Manusia), Method (Metode), Material (Konten/Bahan), dan Machine/Tools (Alat/Platform).

Membedah Fishbone: Studi Kasus di Ruang Rapat

Sesi brainstorming dimulai. Kali ini, suasananya berbeda karena fokusnya adalah mengisi diagram, ego pribadi mulai luruh digantikan rasa ingin tahu.

Pertama, mereka membedah kategori Material (Konten). "Apakah visual kita kurang menarik?" tanya Sarah. Dina, desainer grafis, menjawab ragu, "Engagement di Instagram sebenarnya naik, Bu. Banyak yang like dan save. Jadi sepertinya visual bukan masalah utamanya." Sarah mencatat "Visual OK" sebagai catatan kecil, namun menambahkan cabang kecil di tulang Material: "Kesesuaian pesan headline."

Kedua, mereka beralih ke Machine (Platform/Alat). "Apakah ada bug di website atau landing page kita?" tanya Riko dari tim teknis. Setelah dicek cepat, kecepatan loading website normal, dan tombol WhatsApp berfungsi baik. Kategori ini bersih.

Ketiga, masuk ke Man (Manusia). "Apakah tim CS (Customer Service) terlambat membalas chat yang masuk?" Data menunjukkan respon rata-rata di bawah 5 menit. Tim bekerja prima. Masalah bukan di sini.

Keempat, dan yang paling krusial, adalah Method (Metode). Di sinilah diskusi memanas. Sarah mengajak tim menelusuri customer journey. "Coba kita lihat alurnya. Orang lihat iklan, orang klik, lalu masuk ke landing page. Apa yang terjadi di sana?" Salah satu staf performance marketing, Budi, mengangkat tangan. "Bu, saya perhatikan bounce rate di landing page sangat tinggi minggu ini. Orang masuk, tapi langsung keluar dalam 3 detik."

"Kenapa?" kejar Sarah. Pertanyaan 'kenapa' ini adalah kunci dari teknik fishbone untuk menggali lebih dalam.

Setelah ditelusuri bersama, mereka menemukan fakta mengejutkan. Iklan yang dipasang menjanjikan "E-book Gratis Tips Bisnis", tetapi ketika diklik, landing page tersebut langsung menyodorkan "Formulir Berlangganan Berbayar" tanpa menyebutkan E-book gratis di bagian atas. Ada ketidaksinkronan pesan antara iklan dan halaman tujuan. Pengunjung merasa tertipu dan langsung pergi.

Menemukan Akar Masalah yang Sebenarnya

Diagram fishbone di papan tulis kini penuh dengan coretan, tetapi satu lingkaran merah besar menandai akar masalah yang sebenarnya: Inkonsistensi Pesan Kampanye (Metode).

Ternyata, penyebab anjloknya leads bukan karena desainer yang malas atau algoritma yang jahat. Masalahnya adalah kesalahan alur komunikasi (metode) di mana materi promosi tidak selaras dengan landing page. Tanpa bantuan visualisasi fishbone, mungkin tim Sarah akan menghabiskan waktu berminggu-minggu mengganti desain gambar atau menaikkan budget iklan, padahal bukan itu obat yang dibutuhkan.

Penemuan ini mengubah suasana ruangan. Rasa frustrasi berubah menjadi kelegaan karena "musuh" yang sebenarnya telah teridentifikasi. Solusinya pun menjadi jelas dan terukur: revisi copywriting di landing page agar selaras dengan janji di iklan.

Transformasi Cara Kerja Tim

Satu minggu setelah perbaikan itu dilakukan, grafik leads mulai merangkak naik kembali ke zona hijau. Namun, bagi Sarah, kemenangan terbesar bukanlah angka tersebut, melainkan perubahan pola pikir timnya. Mereka tidak lagi panik saat masalah muncul. Mereka belajar bahwa setiap gejala memiliki akar penyebab yang bisa ditelusuri jika kita mau duduk tenang dan membedahnya sepotong demi sepotong.

Metode fishbone mengajarkan mereka bahwa problem solving adalah seni bertanya, bukan seni menuduh. Di dunia marketing yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan menganalisis struktur masalah adalah skill yang membedakan seorang eksekutor biasa dengan seorang strategis yang handal.

Kuasai Seni Memecahkan Masalah

Apakah tim Anda sering terjebak dalam debat kusir saat performa turun? Atau Anda sering merasa solusi yang Anda ambil hanya menyembuhkan gejala, bukan penyakitnya? Seperti cerita Sarah, kemampuan menggunakan alat berpikir kritis seperti Fishbone Diagram bisa menyelamatkan karier dan bisnis Anda dari keputusan yang impulsif.

Jangan biarkan masalah berlarut-larut menghambat pertumbuhan profesional Anda. Saatnya Anda melengkapi diri dengan kerangka berpikir yang tajam saat problem solving dan efektif menggunakan framework Fishbone bersama 👉 Risconsulting. Yuk, daftar sekarang.

Related Tags

#problem solving
Risconsulting

Kami adalah solusi kreatif untuk kapabilitas & kapasitas di era digital.

Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami. Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Mulai Konsultasi Gratis

New Article

Discover our latest articles and insights

Risconsulting

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470

info@ris.co.id
(021) 278 99 508