February 11, 2026
Fakta menunjukkan bahwa kemampuan retensi informasi dari metode pembelajaran satu arah seperti ceramah seringkali berhenti di angka 50% atau kurang setelah sesi berakhir. Sebaliknya, metode interaktif yang melibatkan praktik langsung terbukti meningkatkan pemahaman konseptual secara signifikan dibandingkan metode tradisional.
Data ini menjadi dasar mengapa dunia pelatihan korporat kini bergeser drastis melalui sebuah Revolusi Strategi dalam belajar. Manusia tidak didesain untuk sekadar duduk dan mendengarkan, kita didesain untuk belajar melalui tindakan, interaksi, dan tantangan nyata.
Mari kita telusuri perjalanan Muji, seorang Senior Manager di sebuah perusahaan yang sedang menghadapi gelombang disrupsi digital. Ia memiliki visi besar untuk timnya, namun ia terjebak dalam Backstory yang umum terjadi yaitu timnya kompeten secara teknis, namun kaku dalam strategi dan takut mengambil risiko. Muji sadar, untuk bertahan, mereka tidak bisa hanya bekerja "seperti biasa".
Namun, Muji menghadapi hal besar yang tak kasat mata: kebosanan dan resistensi terhadap metode pelatihan konvensional. Berkali-kali ia mengirim timnya ke seminar strategi namun mereka kembali tanpa perubahan perilaku. Taruhannya sangat tinggi; jika tim Muji gagal beradaptasi dengan model bisnis baru, departemennya terancam dibubarkan atau kalah kompetisi.
Di titik frustrasi inilah terjadi disruption dalam pola pikir Muji. Ia menemukan bahwa risconsulting menawarkan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar sesi lecturing yang membuai peserta hingga tertidur, risconsulting menghadirkan program yang menekankan pada Real Outcomes dan Real Feedback.
Langkah ini merupakan bagian dari Revolusi Strategi yang mereka usung; mereka tidak hanya memberikan teori, tetapi menghadirkan pengalaman merasakan langsung dampak keputusan bisnis melalui aktivitas kelas yang dinamis. Inilah inti dari apa yang disebut Experiential Learning.

Berbeda dengan model "banking" dalam pendidikan di mana siswa dianggap sebagai wadah kosong yang diisi informasi, Experiential Learning menempatkan tindakan sebagai prasyarat pengetahuan. Dalam metode ini, peserta bertindak terlebih dahulu dalam simulasi, mencoba memahami efek dari perilaku mereka, baru kemudian menarik prinsip umum untuk diterapkan di dunia nyata. Bagi Muji, ini berarti timnya tidak akan "diajari" cara berenang lewat slide presentasi, melainkan langsung "diceburkan" ke kolam simulasi yang aman namun menantang.
Mengapa ini penting bagi Muji dan timnya yang notabene adalah profesional dewasa? Orang dewasa memiliki gaya belajar yang unik. Mereka perlu melihat relevansi langsung dan memiliki otonomi. Experiential Learning memberikan ruang bagi emergent learning, pembelajaran yang muncul dari interaksi dan keputusan yang dibuat saat itu juga, bukan sekadar menghafal konten.
Dalam konteks organisasi, metode ini dipilih karena kemampuannya memangkas jarak antara "mengetahui" dan "melakukan". Seringkali kita tahu apa yang harus dilakukan (misalnya: berinovasi), tetapi tidak melakukannya karena takut salah. Simulasi boardgame memberikan ruang aman sebagai bentuk Revolusi Strategi bagi orang dewasa untuk gagal, belajar dari kesalahan tanpa risiko finansial nyata, dan mencoba strategi baru.
Dalam sesi pelatihan risconsulting, Muji melihat bagaimana boardgame dirancang untuk menyentuh aspek psikologis positif peserta menggunakan framework PERMA:
Puncak Journey atau perjalanan pembelajaran Muji terjadi saat ia dan timnya memainkan TRANSFORM!, sebuah simulasi strategi bisnis dan transformasi tingkat lanjut dari risconsulting. Di sini, Revolusi Strategi perusahaan diuji secara nyata dalam lingkungan simulasi.
Tantangan datang bertubi-tubi. Kartu Analyst Rating menunjukkan sentimen pasar yang "Crash", dan Muji harus memutuskan: apakah memotong biaya operasional demi profit sesaat, atau berani berinvestasi pada inovasi model bisnis baru meski berisiko tinggi?
Melalui Experiential Learning ini, Muji merasakan ketegangan nyata. Ketika rekannya yang berperan sebagai Chief M&A Shark menyarankan akuisisi agresif, Muji harus berdebat menggunakan data simulasi. Mereka belajar bahwa transformasi bukan sekadar jargon, melainkan seni menyeimbangkan kapal yang sedang melaju kencang sambil memperbaiki mesinnya.
Kemenangan Muji bukan hanya saat timnya berhasil mencapai target kapitalisasi pasar 50 Miliar dalam game. Kemenangan sesungguhnya terjadi saat sesi debriefing (refleksi). Muji dan timnya menyadari pola perilaku mereka selama ini; mereka terlalu takut pada risiko jangka pendek sehingga mengorbankan inovasi jangka panjang.
Pemahaman sejati lahir dari pengalaman. Dengan mempraktikkan langsung Revolusi Strategi melalui simulasi Experiential Learning, Muji dan timnya kini memiliki "memori otot" mental. Mereka kembali ke kantor bukan hanya dengan catatan teori, tetapi dengan kepercayaan diri dan skill yang telah teruji dalam simulasi.
risconsulting membuktikan bahwa transformasi perilaku bisnis tidak terjadi di ruang kuliah yang pasif, melainkan di arena simulasi yang dinamis, di mana setiap keputusan menghadirkan pelajaran berharga.
Hubungi konsultan pelatihan risconsulting untuk berdiskusi kebutuhan pembelajaran Anda!
Related Tags
Experiential Learning Cycle Adalah Perbedaan dan Penerapan nya
Experiential Learning Artinya: untuk Manfaat Bagi Organisasi dan Karyawan
Teknik Experiential Learning: Cara Belajar yang Mengubah Cara Berpikir
Mengapa Peran Guru Sangat Penting dalam Experiential Learning?
Berikut ini Metode Experiential Learning disertai Contoh Implementasinya

Kami adalah solusi kreatif untuk
kapabilitas & kapasitas di era digital.
Capai tujuan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Klik tombol di bawah untuk konsultasi gratis.

Discover our latest articles and insights
Company

Podomoro City
Garden Shopping Arcade Blok B/8DH
Jakarta Barat - 11470
info@ris.co.id
(021) 278 99 508